Kantata Takwa (album)


Kantata Takwa (album)



Kantata Takwa adalah album dari grup musik Kantata Takwa yang dirilis pada tahun 1990. Album ini adalah proyek kolaborasi musik dari banyak seniman dan musisi kawakan Indonesia seperti Iwan Fals, Sawung Jabo, Jockie Surjoprajogo dan didukung keterlibatan penyair dan sastrawan Indonesia W.S. Rendra. Beberapa lagu dari album ini digunakan dalam film berjudul sama yang dirilis tahun 2008, yaitu lagu "Kantata Takwa", "Kesaksian", Paman Doblang", dan "Air Mata". Saat dirilis dalam bentuk kaset tahun 1990, dalam buklet album ini terdapat tiket untuk memasuki pagelaran musik akbar "Kantata Takwa" yang diadakan pada tanggal 23 Juni 1990 di Stadion Utama Gelora Bung Karno.
Pada tahun 2007, album Kantata Takwa masuk ke peringkat #64 di dalam daftar "150 Album Indonesia Terbaik" yang diterbitkan dalam majalah Rolling Stone Indonesia bulan Desember 2007.

Konser Perdana Kantata 1990

20 Nov

Malam itu, 23 Juni 1990 di Stadion Utama Senayan Jakarta berkumpul ratusan ribu penikmat musik untuk menikmati konser akbar Kantata. Konser tersebut tercatat sebagai salah satu konser terbesar dalam catatan sejarah musik Indonesia, baik dari segi kuantitas penonton maupun dalam kualitas penyelenggaraan.
Kantata diantara diisi oleh para pekerja seni di negeri ini diantaranya adalah seniman kondang Indonesia W.S. Rendra dan musisi-musisi kawakan dari grup musik “Kantata”, yaitu Iwan Fals, Sawung Jabo, Yockie Suryoprayogo, dan Setiawan Djodi.
Konser megah dengan panggung seluas 60 x 23 meter dihiasi kepala burung Rajawali, dilengkapi dengan aksi sinar laser yang membuat konser tersebut terhitung paling megah dan kolosal di zamannya. Konser Kantata Takwa berlangsung meriah dan Euphoria dengan disaksikan sekitar 150.000 pasang mata yang memadati Stadion sejak siang hari.
Sajak sajak Rendra seperti Kesaksian dan Paman Doblang dimusikalisasikan dalam Kantata Takwa. Bagi Rendra, puisi dalm konser musik adalah hal baru. “Musik ini bukan ilustrasi, pementasan itu suatu kesatuan“. (AS)
Berikut kami sertakan beberapa foto eksklusif yang belum beredar dimanapun, biarkan gambar yang berbicara. :D

19.45 | Posted in | Read More »

Lirik Lagu Kantata Takwa

  • Kantata Takwa


    Malam khusuk menelan tahajjudku
    Lidah halilintar menjilat batinku
    Mentari dan cakrawala kenyataan hidup
    Hanya padaMulah kekuasaan kekal

    Ingatlah Allah yang menciptakan
    Allah tempatku berpegang dan bertawakal
    Allah maha tinggi dan maha esa
    Allah maha lembut

    Lindungilah dari ganas dan serakah
    Lindungilah aku dari setan kehidupan
    Berikan mentariMu sinar takwa
    Ya ampunilah dosa

    Gerhana matahari kuasaMu
    Bumi langit manusia ciptaanMu
    Hari kiamat ada di tanganMu
    Aku bersujud

19.37 | Posted in | Read More »

Pengalaman Glenn Fredly Nonton “KONSER KANTATA TAKWA ’91″ Senayan Jakarta


Hari Konser Kantata Takwa pun tiba, saya dan teman-teman pulang sekolah pagi langsung ganti baju bebas untuk menuju Senayan dari siang kami sudah berangkat ke Stadion Utama Senayan Jakarta. Kami anak SMP yg belagak jadi anak SMA dgn seragam bebas, kami semangat menuju Senayan tapi juga bercampur takut karena kepikiran rusuhnya.


Konser Kantata Takwa di gelar April 1991 waktu itu saya masih duduk di bangku SMP kelas 2, saya bersama teman-teman sudah menanti konser ini karena niat banget pengen nonton saya dan teman-teman bersusah payah nabung cuma  buat beli tiket Kantata Takwa. IWAN FALS, SWAMI dan KANTATA TAKWA bagai Virus di masa saya SMP dan teman-teman seperti menjadi lagu wajib di saat-saat nongkrong bareng teman-teman di kelas, kantin, halte bis dll.

Konser Kantata Barock tanggal 30 Desember 2011 di GBK nanti, akan menjadi pembuka dan penyambut tahun 2012, tahun kiamat rezim fasis hari ini power to the people. Jadi pengen berbagi pengalaman yang tak akan terlupakan menyaksikan konser Kantata Takwa tahun 1991 di GBK. Ok gua akan berbagi cerita tentang pengalaman nonton live konser kantata takwa tahun 1991 di GBK semoga tidak terlewat ya….
Saya tahu Kantata Takwa akan konser di Stadion Utama Senayan (sebelum GBK) itu bukan dari promo atau Baliho tapi justru dari Polisi. Kenapa dari Polisi?? Jadi sekolah SMP saya itu depannya adalah POLRES, mereka sering nongkrong di warteg deket sekolahan kami, dari obrolan mereka kami tau akan adanya konser kantata takwa itu.
Sejak bocoran dari Polisi mengenai konser Kantata Takwa itu, saya dan teman-teman terus mencari tahu lewat radio, koran, bahkan obrolan dari pengamen-pengamen jalanan tentang konser ini. Ya roh konser kantata takwa ’91 itu benar-benar terasa sekali dari sebelum promosi muncul luas di media, Social Media belum ada tapi kabar dari mulut ke mulut gokil.
Konser Kantata Takwa ’91 jadi sebuah konser paling dinanti oleh saya dan teman-tman,tidak jajan dan cari kerja tambahan dlakukan oleh saya dan teman-teman demi menyaksikan konser ini. Mulai dari ngamen di bis, jual botol dan koran bekas, saya dan teman-teman SMP lakukan untuk nabung beli tiket konser,terutama untuk temen-teman yg gak mampu kami gotong royong.
Dalam perjalanan ke Senayan, saya melihat ada rombongan beberapa truk yg menyanyikan lagu “BONGKAR” yang pastinya juga menuju ke konser Kantata Takwa di Senayan. Akhirnya saya dan teman-teman sampe juga di area Senayan, kami belum masuk sampe di stadion tapi penjagaan di area Senayan seperti mau perang, penuh tentara.
Bersama teman-teman saya sepakat untuk bergabung dengan rombongan lain yang lebih ramai berjalan menuju Stadion senayan, ya.. kami gabung dengan teman-teman STM. Saya  lupa itu gabungan anak STM mana, yang jelas kami berasa aman saja berada ditengah mereka, karena kami ngaku anak STM juga,hahaha #KT’91.
Dari siang orang sudah berdatangan, sedangkan konser Kantata Takwa baru mulai setelah magrib, saya serta teman-teman mulai masuk dalam stadion sekitar jam3 sore. Penuh usaha untuk bisa masuk sampai kedalam stadion, dari pemeriksaan oleh tentara super ketat, antrian panjang sampe hilang dari rombongan temen-tman. Tapi kami berjumpa lagi di Tribun stadion, saya dan teman-teman bengong liat panggung raksasa berbentuk Rajawali, ini pengalaman saya nonton konser.
Konser Kantata Takwa ada opening act-nya Ikang Fauzi & Anggun C Sasmi dengan topi baretnya, Penonton menggila karena mau  Kantata Takwa segera mulai. Konser Kantata Takwa belum mulai suasana dalam stadion memanas, karena personil aparat senjata lengkap ditambah ke dalam stadion. Dari tribun stadion liat lautan manusia yang di kelas festival, hasrat ingin gabung untuk berada di festival muncul dan saya pun nekat ke festival. Akhirnya saya dan beberapa teman kita berada di festival, atas usaha ‘gila’, panggung makin dekat mata, diantara himpitan org kami menanti munculnya para personil Kantata Takwa. Oiya opening act selain ada Ikang fauzi dan Anggun C sasmi ada juga Nicky astria, nah saat Nicky astria nyanyi tribun bawah mulai rusuh. Stadion Senayan rasanya tidak cukup menampung lautan manusia dengan jiwa yg ‘haus’, belum lagi manusia diluar stadion yg tdk bisa masuk.
Konser Kantata Takwa jadi peristiwa budaya paling fenomenal di Indonesia, khususnya untuk Jakarta, semangat baru lahir di konser ini untuk melawan angkuhnya rezim Orba. Melihat penyair WS Rendra, Iwan Fals, Jabo, Jody dan musisi lain begitu tampil diatas panggung Rajawali raksasa itu, seperti peluru kendali siap luncur. Saya dan beberapa teman ‘terjebak’ ditengah lautan manusia dewasa yg menggila, konser Kantata Takwa pun mulai, ABG dtengah arus perlawanan.
Konser Kantata Takwa begitu mulai seperti bensin yang bertemu dgn api, saya bisa lihat raut muka aparat yg pucat dan panik, senjata mereka jadi sedotan. Lagu demi lagu mengalun dari Konser Kantata Takwa, nah ada kejadian listrik padam, kebayang nggak tegangnya stadion, pikiran disabotase meghinggapi pikiran kami waktu itu. Spontan, dipadamnya listrik, koor tanpa komando lagu ‘BONGKAR’ menggema buat bulu kuduk berdiri, saya bersama teman-teman tetap bertahan. Semua personil Kantata Takwa tetap gagah dan tenang menghadapi keadaan seperti itu, itu juga yang membuat penonton tambah smangat untuk tetap bernyanyi. Pada saat listrik nyala, kalo tidak salah lagu pamungkas ‘Bongkar’ dimainkan, benar-benar suara ratusan ribu penonton menghujam tembok penguasa. Lagu Paman Domblang, Rajawali, Suara pengangguran, Bento, bagai peluru yang menghujam jantung penguasa Orba Soeharto..bener-benar EPIC kawan!!#KT’91.
Ini link Suasana Konser Kantata Takwa’91 perform “Bongkar” http://www.youtube.com/watch?v=MmyDsX9kzns
Saya beruntung jadi saksi sejarah Konser KantataTakwa tahun ’91, ABG seperti saya dapat pelajaran berharga tentang sebuah perjuangan lewat budaya.
sekian
Cerita diatas adalah cerita nyata Glenn Fredly yang penulis ambil dari twitter beliau ” http://twitter.com/#!/GlennFredly semoga Glenn tidak keberatan Kicauannya di twitter penulis rangkum lagi dan dibagikan ke teman-teman yang lain dan semoga ada manfaatnya. Amin

19.30 | Posted in | Read More »

100 Kalimat Indah Dalam Lirik Lagu Iwan Fals dkk

100 Kalimat Indah Dalam Lirik Lagu Iwan Fals dkk

100 Kalimat Indah Dalam Lirik Lagu Iwan Fals
Lagu-lagu yang dinyanyikan Iwan Fals sendirian maupun dinyanyikan dalam format group banyak memuat lirik yang istimewa, baik lirik lagu ciptaannya sendiri maupun dari orang lain. Lagu lagu Iwan Fals ini beberapa diantaranya memuat rangkaian kata yang indah dan menjadi kalimat penuh makna.
Berikut adalah 100 Kalimat Indah Dalam Lirik Lagu Iwan Fals dkk. Meskipun ini hanyalah sedikit dari kutipan lirik lirik lagu Iwan Fals yang sempat kami kumpulkan, setidaknya bisa memberi semangat. Simak dan resapilah makna yang terkandung didalamnya. Semoga hari-hari kita menjadi lebih berguna. (sb)

** kata kata Iwan Fals, kata kata bijak Iwan Fals, kata mutiara Iwan Fals, lirik lagu Iwan Fals, album Iwan Fals


100 Kalimat Indah Dalam Lirik Lagu Iwan Fals dkk
(dirangkum dan dipublikasikan oleh SB untuk iwanfalsmania.com pada 16/01/2008)
--------------------------------------------------------
1.“Berhentilah jangan salah gunakan, kehebatan ilmu pengetahuan untuk menghancurkan”
(Puing – album Iwan Fals Sarjana Muda 1981)

2.“Hei jangan ragu dan jangan malu, tunjukkan pada dunia bahwa sebenarnya kita mampu”.
(Bangunlah Putra-Putri Pertiwi – album Sarjana Muda 1981)

3."Cepatlah besar matahariku, menangis yang keras janganlah ragu, hantamlah sombongnya dunia buah hatiku, doa kami dinadimu”.
(Galang Rambu Anarki – album
Iwan Fals Opini 1982)

4.“Jalan masih teramat jauh, mustahil berlabuh bila dayung tak terkayuh”.
(Maaf Cintaku - album
Iwan Fals Sugali 1984)

5.“Jangan kau paksakan untuk tetap terus berlari, bila luka di kaki belum terobati”.
(Berkacalah Jakarta - album
Iwan Fals Sugali 1984)

6.“Riak gelombang suatu rintangan, ingat itu pasti kan datang, karang tajam sepintas seram, usah gentar bersatu terjang”.
(Cik - album
Iwan Fals Sore Tugu Pancoran 1985)

7.“Aku tak sanggup berjanji, hanya mampu katakan aku cinta kau saat ini, entah esok hari, entah lusa nanti, entah”.
(Entah - album
Iwan Fals Ethiopia 1986)

8.“Mengapa bunga harus layu?, setelah kumbang dapatkan madu, mengapa kumbang harus ingkar?, setelah bunga tak lagi mekar”.
(Bunga-Bunga Kumbang-Kumbang - album
Iwan Fals Ethiopia 1986)

9.“Ternyata banyak hal yang tak selesai hanya dengan amarah”.
(Ya Ya Ya Oh Ya - album
Iwan Fals Aku Sayang Kamu 1986)

10.“Dalam hari selalu ada kemungkinan, dalam hari pasti ada kesempatan”.
(Selamat Tinggal Malam - album
Iwan Fals Aku Sayang Kamu 1986)

--------------------------------------------------------

11.“Kota adalah hutan belantara akal kuat dan berakar, menjurai didepan mata siap menjerat leher kita”.
(Kota - album
Iwan Fals Aku Sayang Kamu 1986)

12.“Jangan kita berpangku tangan, teruskan hasil perjuangan dengan jalan apa saja yang pasti kita temukan”.
(Lancar - album
Iwan Fals Lancar 1987)

13.“Jangan ragu jangan takut karang menghadang, bicaralah yang lantang jangan hanya diam”.
(Surat Buat Wakil Rakyat - album
Iwan Fals Wakil Rakyat 1987)

14.“Kau anak harapanku yang lahir di zaman gersang, segala sesuatu ada harga karena uang”.
(Nak - album
Iwan Fals 1910 1988)

15.“Sampai kapan mimpi mimpi itu kita beli?, sampai nanti sampai habis terjual harga diri”.
(Mimpi Yang Terbeli - album
Iwan Fals 1910 1988)

16.“Seperti udara kasih yang engkau berikan, tak mampu ku membalas, Ibu”.
(Ibu - album
Iwan Fals 1910 1988)

17.“Memang usia kita muda namun cinta soal hati, biar mereka bicara telinga kita terkunci”.
(Buku Ini Aku Pinjam - album
Iwan Fals 1910 1988)

18.“Dendam ada dimana mana di jantungku, di jantungmu, di jantung hari-hari”.
(Ada Lagi Yang Mati - album
Iwan Fals 1910 1988)

19.“Hangatkan tubuh di cerah pagi pada matahari, keringkan hati yang penuh tangis walau hanya sesaat”.
(Perempuan Malam - album
Iwan Fals Mata Dewa 1989)

20.“Kucoba berkaca pada jejak yang ada, ternyata aku sudah tertinggal, bahkan jauh tertinggal”.
(Nona - album
Iwan Fals Mata Dewa 1989)

--------------------------------------------------------

21.“Oh ya! ya nasib, nasibmu jelas bukan nasibku, oh ya! ya takdir, takdirmu jelas bukan takdirku”.
(Oh Ya! - album
Iwan Fals Swami 1989)

22.“Wahai kawan hei kawan, bangunlah dari tidurmu, masih ada waktu untuk kita berbuat, luka di bumi ini milik bersama, buanglah mimpi-mimpi”.
(Eseks eseks udug udug (Nyanyian Ujung Gang) - album
Iwan Fals Swami 1989)

23.“Api revolusi, haruskah padam digantikan figur yang tak pasti?”.
(Condet - album Swami 1989)

24.“Kalau cinta sudah di buang, jangan harap keadilan akan datang”.
(Bongkar - album
Iwan Fals Swami 1989)

25.“Kesedihan hanya tontonan, bagi mereka yang diperkuda jabatan”.
(Bongkar - album
Iwan Fals Swami 1989)

26.“Orang tua pandanglah kami sebagai manusia, kami bertanya tolong kau jawab dengan cinta”.
(Bongkar - album
Iwan Fals Swami 1989)

27.“Satu luka perasaan, maki puji dan hinaan, tidak merubah sang jagoan menjadi makhluk picisan”.
(Rajawali - album Kantata Takwa 1990)

28.“Kesadaran adalah matahari, kesabaran adalah bumi, keberanian menjadi cakrawala, dan perjuangan adalah pelaksanaan kata kata”.
(Paman Doblang - album Kantata Takwa 1990)

29.“Mereka yang pernah kalah, belum tentu menyerah”.
(Orang-Orang Kalah - album Kantata Takwa 1990)

30.“Aku rasa hidup tanpa jiwa, orang yang miskin ataupun kaya sama ganasnya terhadap harta”.
(Nocturno - album Kantata Takwa 1990)

--------------------------------------------------------

31.“Orang orang harus dibangunkan, kenyataan harus dikabarkan, aku bernyanyi menjadi saksi”.
(Kesaksian - album Kantata Takwa 1990)

32.“Ingatlah Allah yang menciptakan, Allah tempatku berpegang dan bertawakal, Allah maha tinggi dan maha esa, Allah maha lembut”.
(Kantata Takwa - album Kantata Takwa 1990)

33.“Kebimbangan lahirkan gelisah, jiwa gelisah bagai halilintar”.
(Gelisah - album Kantata Takwa 1990)

34.“Bagaimanapun aku harus kembali, walau berat aku rasa kau mengerti”.
(Air Mata - album Kantata Takwa 1990)

35.“Alam semesta menerima perlakuan sia sia, diracun jalan napasnya diperkosa kesuburannya”.
(Untuk Bram - album
Iwan Fals Cikal 1991)

36.“Duhai langit, duhai bumi, duhai alam raya, kuserahkan ragaku padamu, duhai ada, duhai tiada, duhai cinta, ku percaya”.
(Pulang Kerja - album
Iwan Fals Cikal 1991)

37.“Dimana kehidupan disitulah jawaban”.
(Alam Malam - album
Iwan Fals Cikal 1991)

38.“Ada dan tak ada nyatanya ada”.
(Ada - album
Iwan Fals Cikal 1991)

39.“Aku sering ditikam cinta, pernah dilemparkan badai, tapi aku tetap berdiri”.
(Nyanyian Jiwa - album Swami Il 1991)

40.“Aku mau jujur jujur saja, bicara apa adanya, aku tak mau mengingkari hati nurani”.
(Hio - album Swami Il 1991)

--------------------------------------------------------

41.“Bibirku bergerak tetap nyanyikan cinta walau aku tahu tak terdengar, jariku menari tetap tak akan berhenti sampai wajah tak murung lagi”.
(Di Mata Air Tidak Ada Air Mata - album
Iwan Fals Belum Ada Judul 1992)

42.“Mengapa besar selalu menang?, bebas berbuat sewenang wenang, mengapa kecil selalu tersingkir?, harus mengalah dan menyingkir”.
(Besar Dan Kecil - album
Iwan Fals Belum Ada Judul 1992)

43.“Angin pagi dan nyanyian sekelompok anak muda mengusik ingatanku, aku ingat mimpiku, aku ingat harapan yang semakin hari semakin panjang tak berujung”.
(Aku Disini - album
Iwan Fals Belum Ada Judul 1992)

44.“Jalani hidup, tenang tenang tenanglah seperti karang”.
(Lagu Satu - album
Iwan Fals Hijau 1992)

45.“Sebentar lagi kita akan menjual air mata kita sendiri, karena air mata kita adalah air kehidupan”.
(Lagu Dua - album
Iwan Fals Hijau 1992)

46.“Kita harus mulai bekerja, persoalan begitu menantang, satu niat satulah darah kita, kamu adalah kamu aku adalah aku”.
(Lagu Tiga - album
Iwan Fals Hijau 1992)

47.“Kenapa kebenaran tak lagi dicari?, sudah tak pentingkah bagi manusia?”
(Lagu Empat- album
Iwan Fals Hijau 1992)

48.“Kenapa banyak orang ingin menang?, apakah itu hasil akhir kehidupan?”.
(Lagu Empat- album
Iwan Fals Hijau 1992)

49.“Anjingku menggonggong protes pada situasi, hatiku melolong protes pada kamu”.
(Lagu Lima - album
Iwan Fals Hijau 1992)

50.“Biar keadilan sulit terpenuhi, biar kedamaian sulit terpenuhi, kami berdiri menjaga dirimu”.
(Karena Kau Bunda Kami - album Dalbo 1993)

--------------------------------------------------------

51.“Apa jadinya jika mulut dilarang bicara?, apa jadinya jika mata dilarang melihat?, apa jadinya jika telinga dilarang mendengar?, jadilah robot tanpa nyawa yang hanya mengabdi pada perintah”.
(Hura Hura Huru Hara - album Dalbo 1993)

52.“Tertawa itu sehat, menipu itu jahat”.
(Hua Ha Ha - album Dalbo 1993)

53.“Nyanyian duka nyanyian suka, tarian duka tarian suka, apakah ada bedanya?”
(Terminal – single 1994)

54.“Waktu terus bergulir, kita akan pergi dan ditinggal pergi”.
(Satu Satu – album
Iwan Fals Orang Gila 1994)

55.“Pelan-pelan sayang kalau mulai bosan, jangan marah-marah nanti cepat mati, santai sajalah”.
(Menunggu Ditimbang Malah Muntah – album
Iwan Fals Orang Gila 1994)

56.“Mau insaf susah, desa sudah menjadi kota”.
(Menunggu Ditimbang Malah Muntah – album
Iwan Fals Orang Gila 1994)

57.“Pertemuan dan perpisahan, dimana awal akhirnya?, dimana bedanya?”.
(Doa Dalam Sunyi – album
Iwan Fals Orang Gila 1994)

58.“Jika kata tak lagi bermakna, lebih baik diam saja”.
(Awang Awang – album
Iwan Fals Orang Gila 1994)

59.“Bagaimana bisa mengerti?, sedang kita belum berpikir, bagaimana bisa dianggap diam?, sedang kita belum bicara”.
(Awang Awang – album
Iwan Fals Orang Gila 1994)

60.“Aku bukan seperti nyamuk yang menghisap darahmu, aku manusia yang berbuat sesuai aturan dan keinginan”.
(Nasib Nyamuk – album
Iwan Fals & Sawung Jabo Anak Wayang 1994)

--------------------------------------------------------

61.“Oh susahnya hidup, urusan hati belum selesai, rumah tetangga digusur raksasa, pengusaha zaman merdeka”.
(Oh – single 1995)

62.“Aku disampingmu begitu pasti, yang tak kumengerti masih saja terasa sepi”.
(Mata Hati – album
Iwan Fals Mata Hati 1995)

63.“Sang jari menari jangan berhenti, kupasrahkan diriku digenggaman-Mu”.
(Lagu Pemanjat – album
Iwan Fals Lagu Pemanjat 1996)

64.“Lepaslah belenggu ragu yang membelit hati, melangkah dengan pasti menuju gerbang baru”.
(Songsonglah – album Kantata Samsara 1998)

65.“Berani konsekuen pertanda jantan”.
(Nyanyian Preman – album Kantata Samsara 1998)

66.“Dengarlah suara bening dalam hatimu, biarlah nuranimu berbicara”.
(Langgam Lawu – album Kantata Samsara 1998)

67.“Matinya seorang penyaksi bukan matinya kesaksian”.
(Lagu Buat Penyaksi – album Kantata Samsara 1998)

68.“Bertahan hidup harus bisa bersikap lembut, walau hati panas bahkan terbakar sekalipun”.
(Di Ujung Abad - album
Iwan Fals Suara Hati 2002)

69.“Jangan goyah percayalah teman perang itu melawan diri sendiri, selamat datang kemerdekaan kalau kita mampu menahan diri”.
(Dendam Damai - album
Iwan Fals Suara Hati 2002)

70.“Berdoalah sambil berusaha, agar hidup jadi tak sia-sia”.
(Doa - album
Iwan Fals Suara Hati 2002)
 

--------------------------------------------------------

71.“Harta dunia jadi penggoda, membuat miskin jiwa kita”.
(Seperti Matahari - album
Iwan Fals Suara Hati 2002)

72.“Memberi itu terangkan hati, seperti matahari yang menyinari bumi”.
(Seperti Matahari - album
Iwan Fals Suara Hati 2002)

73.“Jangan heran korupsi menjadi jadi, habis itulah yang diajarkan”.
(Politik Uang – album
Iwan Fals Manusia Setengah Dewa 2004)

74.“Gelombang cinta gelombang kesadaran merobek langit yang mendung, menyongsong hari esok yang lebih baik”.
(Para Tentara – album
Iwan Fals Manusia Setengah Dewa 2004)

75.“Terhadap yang benar saja sewenang wenang, apalagi yang salah”.
(Mungkin – album
Iwan Fals Manusia Setengah Dewa 2004)

76.“Begitu mudahnya nyawa melayang, padahal tanpa diundang pun kematian pasti datang”.
(Matahari Bulan Dan Bintang – album
Iwan Fals Manusia Setengah Dewa 2004)

77.“Dunia kita satu, kenapa kita tidak bersatu?”.
(Matahari Bulan Dan Bintang – album
Iwan Fals Manusia Setengah Dewa 2004)

78.“Urus saja moralmu urus saja akhlakmu, peraturan yang sehat yang kami mau”.
(Manusia Setengah Dewa – album
Iwan Fals Manusia Setengah Dewa 2004)

79.“Di lumbung kita menabung, datang paceklik kita tak bingung”.
(Desa – album
Iwan Fals Manusia Setengah Dewa 2004)

80.“Tutup lubang gali lubang falsafah hidup jaman sekarang”.
(Dan Orde Paling Baru – album
Iwan Fals Manusia Setengah Dewa 2004)

--------------------------------------------------------

81.“Buktikan buktikan!, kalau hanya omong burung beo pun bisa”.
(Buktikan – album
Iwan Fals Manusia Setengah Dewa 2004)

82.“Dunia politik dunia bintang, dunia hura hura para binatang”.
(Asik Nggak Asik – album
Iwan Fals Manusia Setengah Dewa 2004)

83.“Dewa-dewa kerjanya berpesta, sambil nyogok bangsa manusia”.
(17 Juli 1996 – album
Iwan Fals Manusia Setengah Dewa 2004)

84.“Tanam-tanam pohon kehidupan, siram siram sirami dengan sayang, tanam tanam tanam masa depan, benalu-benalu kita bersihkan”.
(Tanam-Tanam Siram-Siram – single 2006 -
album Iwan Fals Keseimbangan 2010)

85.“Ada apa gerangan mengapa mesti tergesa gesa, tak bisakah tenang menikmati bulan penuh dan bintang”.
(Haruskah Pergi – 2006 - Iwan Fals & Indra Lesmana)

86.“Persoalan hidup kalau diikuti tak ada habisnya, soal lama pergi soal baru datang”.
(Selancar – 2006 -
Iwan Fals & Indra Lesmana)

87.“Jaman berubah perilaku tak berubah, orang berubah tingkah laku tak berubah”.
(Rubah – album
Iwan Fals 50:50 2007)

88.“Satu hilang seribu terbilang, patah tumbuh hilang berganti”.
(Pulanglah – album
Iwan Fals 50:50 2007)

89.“Hidup ini indah berdua semua mudah, yakinlah melangkah jangan lagi gelisah”.
(KaSaCiMa – album
Iwan Fals 50:50 2007)

90.“Tak ada yang lepas dari kematian, tak ada yang bisa sembunyi dari kematian, pasti”.
(Ikan-Ikan – album
Iwan Fals 50:50 2007)

--------------------------------------------------------

91.“Ada kamu yang mengatur ini semua tapi rasanya percuma, ada juga yang janjikan indahnya surga tapi neraka terasa”.
(Cemburu – album
Iwan Fals 50:50 2007)

92.“Hukum alam berjalan menggilas ludah, hukum Tuhan katakan “Sabar!”.
(Kemarau – uncassette)

93.“Yang pasti hidup ini keras, tabahlah terimalah”.
(Joned – uncassette)

94.“Oh negeriku sayang bangkit kembali, jangan berkecil hati bangkit kembali”.
(Harapan Tak Boleh Mati – uncassette)

95.“Oh yang ditinggalkan tabahlah sayang, ini rahmat dari Tuhan kita juga pasti pulang”.
(Harapan Tak Boleh Mati – uncassette)

96.“Tuhan ampunilah kami, ampuni dosa-dosa kami, ampuni kesombongan kami, ampuni bangsa kami, terimalah disisi-Mu korban bencana ini”.
(Saat Minggu Masih Pagi – uncassette)

97.“Nyatakan saja apa yang terasa walau pahit biasanya, jangan disimpan jangan dipendam, merdekakan jiwa”.
(Nyatakan Saja – uncassette)

98.“Usiamu tak lagi muda untuk terus terusan terjajah, jangan lagi membungkuk bungkuk agar dunia mengakuimu”.
(Merdeka – uncassette)

99.“Kau paksa kami untuk menahan luka ini, sedangkan kau sendiri telah lupa”.
(Luka Lama – uncassette)

100. “Oh Tuhan tolonglah, lindungi kami dari kekhilafan, oh ya Tuhan tolonglah, Ramadhan mengetuk hati orang orang yang gila perang”.

01.10 | Posted in | Read More »

Sejarah Lahirnya Kantata Takwa

Sejarah Lahirnya Kantata Takwa

Kantata Takwa, nama kelompok musik legendaris beranggotakan para musisi-seniman berkualitas tinggi yang dimiliki Indonesia. Banyak dari kita cuma mengenal lagu-lagunya saja dan cukup puas melihat konser atau rekamannya, jarang kisah awal mula berdirinya kelompok musik ini diketahui.

Maka dari itu kami angkat kembali tulisan lama dari Yockie Suryo Prayogo mengenai Sejarah Lahirnya Kantata Takwa. Artikel ini tampil utuh di iwanfalsmania.com dengan seijin langsung dari penulisnya. Mungkin sudah ada yang pernah membacanya, namun kami yakin ada pula yang belum tahu. Semoga bisa menambah wawasan kita dan menjadi dokumentasi berharga musik Indonesia. (*)
 
 -----------------------------------------------------------------------------
Sejarah Lahirnya KANTATA TAKWA
oleh: Yockie Suryo Prayogo
-----------------------------------------------------------------------------
Sejarah lahirnya Kantata Takwa (Bagian 1)

Kantata Takwa, begitu panjang kisahnya yang bisa saya tulis mengenai kelompok musik tersebut. Karena itu pula saya terpaksa harus membagi-bagi tulisan Kantata dengan versi 1- 2 -3 dan selanjutnya nanti. Pada bagian ini saya hanya akan mengungkapkan kisah perkenalan saya dengan mas Djody hingga terbentuknya kesepakatan kelompok kerja kesenian tersebut, yang akhirnya disebut Kantata Takwa.

Pada tahun 1989, saat itu saya sedang gencar melakukan promo tour bersama kelompok Godbless bagi album kami yang bertajuk ”Semut Hitam”. Saat itu saya masih tinggal di sebuah rumah (kontrakan) di daerah Kebon Jeruk, tepatnya di jalan Anggrek no.52 Kelapa Dua Kebon Jeruk – Jakarta Barat.

Disela-sela kegiatan tour, saat sedang istirahat (jadwal kosong) kami semua selalu pulang kembali ke Jakarta. Suatu hari saya ditelpon oleh Jelly Tobing (drummer) mengajak saya untuk menemani dia berhura-hura (jam-session’an) main musik dirumah seorang kenalannya. Tidak ada target atau tujuan jangka panjang tertentu selain hanya untuk ”bersuka-cita”, bermusik sekedar hepi-hepian mengisi waktu yang luang saja. Temannya tersebut adalah penghobbi musik yang punya fasilitas latihan/nge-band dirumahnya. Lazimnya orang tajir-lah …intinya .. :) .

Saya sendiri setelah diberitahu oleh Jelly Tobing, bahwa orang tajir tersebut namanya Setiawan Djody rasanya sudah tidak asing terdengar dikuping saya. Siapa sih yang nggak kenal dia saat itu…, maksudnya dilingkungan teman-teman lama saya (di tahun 1970’an) yang saat itu banyak berkecimpung di ranah bisnis “puncak gunung”, nama Setiawan Djody adalah jaminan kertas bernilai yang nggak ber-seri istilahnya hehehe.. (sumpah ngga ngaruh.., saya nggak matre’..!).

Kebetulan juga tempat tinggalnya diwilayah Kemanggisan Raya – Kebon Jeruk, yang notabene tidak berapa jauh dari rumah kontrakkan saya sendiri (10 kilometer-an lah kira-kira jaraknya). Maka disuatu hari Minggu, melalui telpon setelah janjian sama Jelly Tobing saya bersedia dateng ke alamat tersebut… ber “jreng-jreng” ria.

Singkat kata kemudian saya menelusuri jalan Kemanggisan raya yang “krodit” penuh dengan oplet dan pedagang kaki lima dikanan kirinya. Saya mencari-cari nomer rumah yang diberikan pada saya……..fuih..! nggak keliatan jek! Abis kiri kanannya penuh toko-toko bangunan serta deretan warung dan kios-kios lainnya.

Barulah akhirnya saya lihat ada sebongkah pintu gerbang besar berwarna ijo, nyelip diantara warung gudeg dan bakul-bakul rokok pinggiran jalan lainnya. Hm…ini mungkin pikir saya. Lalu sesuai dengan ”petunjuk Jelly Tobing”, bahwa: ”Klakson aja” kalau sudah ketemu gerbang ijo tersebut. Maka saya klaksonlah pintu gerbang ijo tersebut dua kali saja, ”tin…tiiin” gitu bunyi BMW 520 (yang juga masih belom lunas kreditan-nya) hehehe.

Sekejap pintu besar tersebut dibukakan oleh dua orang bertubuh tegap berambut klimis berwajah sangar ..hihihi. Mereka yang kemudian saya kenal akrab bernama pak Parno dan lainnya huehehe. Begitu hidung mobil masuk pintu pagar, terbentang ruang parkiran luas yang kira-kira mampu menampung 12 mobil banyaknya. Masih dari dalam mobil saya melihat dua ekor patung macan Afrika (item dan guwedhe) yang terbuat dari batu semen, sepertinya emang bertugas untuk menyambut kedatangan tamu yang hadir disana. Ck..ck..ck..kagumnya saya… (ndesit tenan..!).

Ruang parkiran tadi adalah bagian terpisah yang dibatasi dengan tembok tinggi untuk memasuki ruang bangunan rumah yang sebenarnya. Maka setelah melewati tembok pintu besar (melewati macan-macan tadi) …semakin takjub saya dibuatnya…. Rasanya tidak sedang berada seperti di Jakarta, namun lebih mirip saya sebut seperti sedang di daerah Bali (mis: Ubud/Gianyar, dsb). Sementara bangunan rumahnya sendiri bergaya klasik aristokrat Eropa yang rada-rada serem dan mencekam (paling nggak buat saya… kebayang sih.. gimana kalau malam..) apalagi disana sini banyak dibangun semacam ”pura” lengkap dengan sesajen2nya. Tetapi sekejap ke-takjub’an saya sirna oleh suara bising ”gedebak.. degebug… nguinngg nguuueinng.. suara gitar bertalu-talu ..hehehe..” (koq gitar bertalu-talu sik?..salah yaakk…biarin deh..).

Tampak Jelly Tobing (biasa…super heboh..) dengan beberapa rekan musisi yang sudah saya kenal seperti Ferry Asmadibrata (musisi terkenal asal Bandung) dan juga ada seorang promotor kawakan… Sofyan Ali namanya ..wah ..seru…(Bla..bla..ba..). Lalu saya dikenalkan ke Setiawan Djody oleh Jely Tobing dan sejenak kami terlibat pembicaraan “ngalor ngidul” sebelum akhirnya saya ikut-ikutan gunjrang-gunjreng nge-berisikin tetangga…: ”JUMP!” by Van Hallen…eh’..tak begitu lama kemudian nongol Renny Jayusman (rocker wanita yang selalu kalungan se-lemari banyaknya..) hehehe.. Datang langsung nyamperin microphone… ”ohh yeeeaahhh…Jumppp!!!” hayaaahh…

Kelompok/pergaulan awal tersebutlah yang kemudian melahirkan gagasan untuk membiayai rekaman bagi ”Mata Dewa” nya Iwan Fals dengan arranger-nya Ian Antono. Yang juga kemudian melahirkan pemikiran Sofyan Ali untuk mendirikan join perusahaan bersama Setiawan Djody yang bernama ”AIRO”. Semenjak saat itulah hubungan pergaulan saya dengan Setiawan Djody kian hari kian akrab, sebagai sesama orang yang mencintai dunia kesenian (khususnya di musik).

Barulah pada tahap-tahap berikutnya akan saya ceritakan proses bergabungnya teman-teman musisi yang lain seperti Iwan Fals / Sawung Jabo dan lainnya.


Sejarah lahirnya Kantata Takwa (Bagian 2)

Semenjak itu saya kerap kali ditelpon mas Djody untuk membicarakan berbagai hal tentang perkembangan musik di Indonesia. Saya katakan bahwa pada intinya musisi ’alternatif’ (non industri) di Indonesia ini membutuhkan "uluran tangan" dari berbagai pihak yang ”peduli”, yang bukan hanya mikirin rumus dagang saja tapi juga mikir tentang "berkesenian" dalam artian yang lebih luas lagi.

Saya melihat ada ”concern” dari dia untuk mau berdialog dengan saya panjang lebar tentang hal tersebut. Maka ketika suatu kali dia menceritakan gagasannya yang ingin bekerja sama dengan AIRO (saat itu perusahaan tersebut masih menjadi milik Sofyan Ali) secara spontan saya langsung mendukungnya.

Dan pada saat itu hubungan kerjasama antara Sofyan Ali dengan Iwan Fals memang sudah berjalan (lewat berbagai konser Iwan sendiri saat-saat itu). Maka ketika konser 100 kota yang akan dimulai di Sumatra (Palembang) tersebut dicekal, Sofyan Ali berkeinginan untuk mengajak Iwan masuk studio guna rekaman.

Rekaman Iwan Fals tersebut akhirnya berlangsung dibawah management AIRO yang bekerjasama dengan SD (Setiawan Djody). Dan seingat saya sebelum masuk ke studio, SD pernah pergi berdua dengan Iwan ke Bali, dimana mereka pada akhirnya berhasil menciptakan lagu ”Mata Dewa”. SD sendiri mengatakan bahwa Mata Dewa adalah ”Sunset” yang mereka lihat ketika mereka gitaran berdua di pantai Kuta.

Maka berikutnya, ketika Iwan Fals sedang sibuk merekam Mata Dewa, saya sendiri mulai sering mengawal SD untuk bermain musik, baik itu dirumahnya atau terkadang beberapa kali ikut konser bersama dipanggung-panggung musik di Ancol. Formasinya waktu itu antara lain Jelly Tobing dsb. Kami hanya memainkan repertoar-repertoar bule. Umumnya lagu-lagu dari Led Zepllin dan U2 ada satu atau dua sih lagunya Van Hallen. Maklum kelompok tersebut memang bukan band serius, tapi hanya sekedar ”gathering” atau kelompok gaul dan per-temanan saja.

Jujur saja, lama-lama saya merasa ”eman” atau sayang kalau melihat kemampuan ”finansial” yang dimiliki hanya untuk ”proyek” kesenangan pribadi saja. Maka secara bertahap perlahan tapi pasti, saya mulai ”meracuni” isi otak pikiran SD agar mau membantu kondisi musik rock yang saat itu emang sudah mulai ”terkapar” tak berdaya.

Hanya ada satu orang di Indonesia kala itu yang secara spesifik berkutat di bisnis musik rock kita, yaitu Log Zelebour yang kebetulan juga mengelola management Godbless. Namun keberadaan Log Z. lebih pada pendekatan bisnis pragmatis, sedangkan yang saya anggap diperlukan musisi rock Indonesia adalah figur sponsor yang berfungsi sebagai seorang ”maesenas”. (yang nggak berpikir harus untung melulu).

Album Mata Dewa
Maka berikutnya, ketika Iwan Fals merilis album Mata Dewa dengan konsep (terobosan) ”direct sale” di Parkir Timur Senayan, sekali lagi saya meyakinkan SD agar melihat peluang kesempatan yang bisa dilakukan demi perkembangan musik rock di tanah air. Konsep terobosan diatas yang saya maksud adalah: kaset Mata Dewa tidak dijual oleh Sofyan Ali (AIRO) melalui agen-agen yang sudah ada (resmi) namun langsung dipajang di mobil-mobil box saat konser di Parkir Timur Senayan. Konsep tersebut terbukti ampuh serta membuka mata banyak orang, bahwa dominasi "Glodog" bisa dipatahkan asalkan ada sebuah sistem distribusi yang direncanakan secara matang.

Beberapa bulan kemudian setelah kaset tersebut terbilang ”sukses”, maka Setiawan Djody mengundang kita semua (saya, Iwan Fals dan WS.Rendra serta Sawung Jabo) guna ngobrol membicarakan segala kemungkinan kesepakatan yang bisa dicapai. Perkenalan antara WS.Rendra (mas Willy) dengan SD sudah terjalin semenjak lama sebelum saya sendiri hadir disana. SD selama itu memang bertindak sebagai maesenas bagi kebutuhan “Bengkel Teater” Rendra, bahkan sudah sempat mengadakan pementasan di New York dan beberapa kota di luar negeri dan sebagainya. Sedangkan Sawung Jabo sendiri adalah salah satu anggota dari Bengkel Teater tersebut.

Singkat kata, kami hampir menemukan kesepakatan untuk saling bekerja-sama, namun harus melewati satu masalah lagi atau anggap saja satu persyaratan yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Yaitu, Iwan Fals bersama S.Jabo dan kawan-kawan yang lain ternyata sedang membuat lagu-lagu, dan sedang merencanakan untuk bisa direkam di studio dan sebagainya. Persyaratan tersebut meminta agar SD juga bersedia menangani masalah management recording bagi mereka. Agar saat nanti, bila kita bisa bekerja sama maka “master” dari produk rekaman tersebut tidak kemana-mana, alias dikelola oleh satu management saja.

SD menyetujui persyaratan tersebut dan bersedia bersama-sama Sofyan Ali untuk mengelola dibawah bendera/label AIRO. Disanalah awal mula gagasan besar tersebut beranjak. Saya pribadi sebenarnya juga tertarik untuk terlibat dalam rekaman yang akan mereka lakukan tersebut, namun saat itu saya lebih berfikir ”taktis” agar lebih berkonsentrasi ”mengawal” SD agar tidak berubah pikiran ..hehehe..., maklum ”roang tajir” kadang-kadang suse’ dipegang buntutnya. Saya sering menemani dia untuk workshop dirumahnya, sekaligus memberi masukan-masukan dan yang terpenting adalah melengkapi peralatan musik yang nanti dibutuhkan .

Singkat cerita, beberapa bulan kemudian rampunglah rekaman Iwan dan teman-teman tersebut (di GIN studio), lalu program jangka pendek berikutnya adalah ”launching” serta dilanjutkan dengan konser (promo).

Sayang, entah mengapa tiba-tiba saya mendapat berita bahwa Sofyan Ali mengundurkan diri dari kelompok kerja tersebut. Dan menyerahkan AIRO untuk dikelola sendiri oleh management SD yang saat itu bernama Multy Setdco. Saya sempat kecewa dengan hal tersebut.... sebab dimata saya belum ada orang Indonesia saat itu yang mampu mengelola bisnis pertunjukan musik dengan baik sekaliber Sofyan Ali.

Album Pertama SWAMI
Bertempat disebuah cafe di wilayah Kuningan tepatnya di Gedung milik Wisma Bakrie, maka launching album bertajuk SWAMI diluncurkan disana. Saya sendiri turut terlibat untuk ikut main secara live pada acara peluncuran album tersebut, padahal sewaktu proses rekamannya saya tidak terlibat. Kami (SWAMI) kemudian sempat pula konser di GOR Kridosono Jogjakarta sebelum pada akhirnya saya, Iwan, Jabo dan Rendra berkumpul lagi untuk melanjutkan pembicaraan guna merealisasikan ”kesepakatan awal” tentang kolaborasi bersama-sama. .

Hari-hari itu... adalah hari-hari dimana Bento dan Bongkar "menggelegar" bagaikan hendak memecah angkasa Indonesia.


Sejarah lahirnya Kantata Takwa (Bagian 3)

Sayang sekali saya tak ingat kapan persisnya pertemuan antar kami berlima terjadi, namun bisa dipastikan bahwa kami semua berkumpul ditempat kediaman SD di wilayah Kemanggisan Raya - Kebon Jeruk tersebut.

Satu hal yang cukup penting harus saya katakan disini, bahwa sebenarnya ada satu nama lagi yang saya usulkan diantara kami berlima yang sudah ada, saya usulkan untuk bergabung dalam kolaborasi tersebut. Yang bersangkutan sendiri secara prinsip bersedia serta sudah beberapa kali juga hadir disana untuk membahas dan membicarakan berbagai hal (dialog non teknis lainnya) sebagai persiapan untuk merumuskan konsep dan bentuk yang akan dirancang. Orang tersebut adalah salah satu sahabat saya sendiri, Harry Roesli (almarhum). Yang juga dijuluki sebagi Musisi mBeling dari kelompok DKSB.

Namun karena Harry Roesli seperti yang sudah kita ketahui bersama domisilinya berada di Bandung, maka hanya sesekali saja yang bersangkutan bisa hadir membicarakan berbagai hal, sedangkan kami berlima yang lainnya lebih sering dan intens untuk berkumpul . Maklum jarak antara Jakarta – Bandung saat itu harus ditempuh selama 4 jam’an lebih. Sebab belum ada jalan tol seperti sebagaimana kondisi saat ini.

Hari-hari berikutnya adalah disepakatinya kegiatan workshop secara rutin di Kebon Jeruk. Jelly Tobing beberapa kali turut hadir disana dan menemani kita untuk memainkan drum ketika datang. Komposisi orang-orang yang terlibat workshop di awal-awalnya adalah saya di keyboard, SD di gitar listrik, Iwan gitar akustik, Jabo di cuap-cuap, Jelly Tobing di drum, serta Edmond (seorang musisi ”lawas” asal kota Solo, yang dulu pernah tergabung bersama SD di Band Terencem pada tahun 70’an).

Figur yang terakhir ini adalah orang yang cukup ”unik” dimata kita semua. Selain gemar guyonan ”khas Jawa”, yang bersangkutan juga sering kita anggap sebagai ”guru spiritualnya” SD selama ini yang khusus untuk menemani SD main gitar sehari-hari sebelum kita semua ada dilingkaran pergaulan di Kebon Jeruk.. (hehehe).

Kegiatan tersebut dilakukan seminggu dua kali (kalau tidak salah) saya tidak ingat lagi tepatnya setiap hari apa kita berkumpul dan bermusik bersama. Yang pasti itu dilakukan disela-sela kegiatan konser promo bagi album Swami (Bento, Bongkar dll.).

Dalam suasana workshop diatas, secara tehnis kami semua sepakat untuk tidak mengacu kepada satu kredo-kredo tertentu, atau warna musik tertentu namun lebih kepada ”mengalir saja” seperti air. Bisa dibayangkan bagaimana suasana ”riuh” yang terdengar disana.

Riuh yang saya maksudkan adalah… gegap gempitanya suara drum yang menggebu dengan ditimpali oleh suara lengkingan gitar yang sangat dominan, serta teriakan-teriakan tanpa kalimat (sekedar na..na..na dsb) dari Iwan Fals dan Jabo. Ditambah lagi dengan tidak adanya ”jalur kord” yang sudah disepakati sebelumnya, alias 3 jurus plus. (nah…”plus” nya itu yang bisa 10 bisa 20 bisa 30… pokoke sak matek’e lah..) hehehe..

Saya sendiri menganggap suasana hiruk pikuk tersebut sangatlah dibutuhkan, agar saya bisa menangkap ”esensi” dari keinginan serta karakter ekspresi masing-masing personal yang ingin disampaikan. Walaupun harus saya akui seringkali saya terpaksa harus ”melindungi” kedua belah lobang dikuping saya dengan jari tangan… supaya dia nggak pecah atau paling tidak enggak jadi ”kendor” selaputnya ..hehehe. Terutama dari bunyi freqwensi yang dihasilkan dari perangkat Soldano nya SD, yang luar biasa tingginya serta keras suaranya.

Bayangkan saja, Soldano tersebut di-distribusikan ke 4 pasang Speaker Marshal 200 lewat 4 buah power tersendiri untuk memenuhi kebutuhan 4 stack speaker Marshall tadi. (seperti kita ketahui bahwa satu stack terdiri dari dua buah speaker). Artinya suara gitar SD disalurkan lewat 8 buah speaker dalam ruangan workshop yang hanya seluas sekitar 5 X 12 meteran. Sedangkan kami yang lainnya, apalagi saya… hanya bersandarkan pada satu buah amplifier ukuran kecil sekelas Fender Jazz Chorus untuk keybord, demikian juga yang lainnya.

Gubbraaakk.. Gedubrakkss… nguinggg.. nGGuuing… CiiaaTT.. wwwAAAAA..!!!, gitu deh’…kira-kira bunyinya dalam bentuk tulisan di huruf……hahaha..!

Sementara mas Willy saya lihat tampak sering hanya mampu bertahan sebentar didalam ruangan lalu berjalan kearah pintu untuk kemudian cukup melihat dan mendengar dari luar tempat latihan tersebut…sambil sesekali dahinya mengkerut… mungkin mencoba menangkap suasana yang cukup liar… lalu menuliskan sesuatu diatas kertas. Ya… saya baru sadar kemudian, rupanya mesin produksinya langsung terpicu dan langsung juga bekerja sebagai penulis naskah.

Hingga akhirnya saya putuskan didalam pertemuan berikutnya, bahwa program workshop selanjutnya haruslah dilakukan secara lebih sistemik. Tidak bisa lagi kita terus-terusan hanya mengeksplorasi suasana tanpa ada kemampuan dan keinginan untuk menangkap/merumuskan “esensi” dalam bentuk sebuah konsep agar lebih “real” dan konkrit. Saya mengusulkan agar latihan-latihan berikutnya cukup terdiri dari beberapa orang saja dari kami guna terciptanya lagu-lagu yang diinginkan.

Disepakati kemudian bahwa saya ditunjuk sebagai komandan untuk berhak memutuskan segala sesuatunya yang berkaitan dengan bunyi-bunyian musik. Rendra sebagai penulis teks dan lirik untuk melengkapi lagu. Sawung Jabo sebagai “tong sampah” yang berfungsi menampung berbagai “aspirasi” keinginan yang ingin disampaikan oleh semua pihak. Iwan Fals sebagai juru terompet yang mewakili suara semua pihak lewat suara nyanyian. Dan SD sebagai penyedia sarana dari berbagai hal teknis yang diperlukan.

Hari-hari berikutnya hanya saya, Iwan Fals, Sawung Jabo dengan ditemani oleh Robin (musisi warga Philipina) yang lebih bertugas merekam draft lagu-lagu kedalam computer lewat “cakewalk” nya. Kami bertigalah yang akhirnya bekerja secara detail untuk mengarang lagu secara kolaboratif bersama.

Demikianlah sejarah awal dari terbentuknya kelompok musik KANTATA TAKWA yang bisa saya rekam dalam tulisan. Semoga tulisan ini suatu saat bisa terus diperbaharui atau ditambahkan lagi berbagai kekurangannya atau bahkan dikoreksi bila diperlukan, agar bisa melengkapi kisah-kisah yang harus disimpan dalam ruang-ruang perpustakaan perjalanan musik di Indonesia pada umumnya.

Saya prihatin mengingat system per-dokumentasian kita yang sampai detik ini belum juga berfungsi sebagaimana seharusnya. Orang hanya diajarkan untuk melihat “hasil” dan menutup mata kepada “proses” serta dasar “filosofi” yang melatar belakanginya.

Selamat pagi Indonesia , hari sudah menjelang sore....

Teks asli artikel ini diposting pada 8 Juli 2008, oleh Yockie Suryo Prayogo
Diambil dari: http://jsops.multiply.com/reviews/item/22


 -----------------------------------------------------------------------------
Kantata Takwa
oleh: Yockie Suryo Prayogo
-----------------------------------------------------------------------------

Kantata Takwa, adalah sebuah proses interaksi berbagai ego-ego besar yang dipayungi WS.Rendra sebagai penasehat spiritual dan penulis sajak/lirik, Setiawan Djody sebagai fasilitator untuk mengatasi kebutuhan-kebutuhan pembiayaan dan lainnya, Iwan Fals sebagai peniup trompet atau juru vocalnya, Sawung Jabo menyediakan dirinya dengan istilah “tong sampah” untuk menampung segala uneg-uneg bersama yang suatu saat harus ditampung dan didistribusikan secara demokratis, saya sebagai designer musik atau bahasa asingnya arranger.

Karena posisi masing-masing diatas sudah sangat jelas, maka bagi saya selaku arranger, garis batas ruang kerja saya juga tampak semakin jelas.

Proses kerja :
Dua minggu pertama, hanya saya, Sawung Jabo dan Iwan yang melakukan eksplorasi suara untuk membuat lagu. Kami bertiga ‘ngarang’ bersama di Kebon Jeruk (piano dan 2 buah akustik gitar). Saya mencatat semua kemungkinan-kemungkinan dan ambience yang muncul dari eksplorasi tersebut.

Setelah selesai 2 mingguan (kurang lebihnya), saya sendirian melakukan proses kerja awal Studio (saat itu Gin Std). Saya menterjemahkan ulang bahasa lagu yang telah kita hasilkan bertiga lewat piano, tentunya juga dengan pendekatan sebuah aransemen. (untuk menyelesaikan musik dasarnya saya dibantu: Donny F, Totok T, Eet S, Reidy Noor, Budi Haryono, Innsisri dan lain-lainnya).

Setelah musik dasar selesai, saya merekam “guide vocal” sebagai panduan nada bagi Iwan Fals dan Sawung Jabo. Selanjutnya mereka relatif harus mengikuti alur melody lagu yang saya contohkan.

Sebab sudah pasti mereka juga sudah lupa akan bentuk lagu yang masih mentah, seperti saat kita gonjrang-ganjreng latihan sebulan (atau lebih) yang lalu. Apalagi Iwan Fals, hari ini dia nyanyi seperti itu besok bisa jadi sudah lain lagi atau sudah jadi lagu yang baru lagi hehehe.. (berubah terus….sak mate’k ‘e.., demikian celoteh kata Sawung Jabo).

Jadi saya bertugas selaku arranger untuk membatasi segalanya, dan itu wewenang serta hak saya yang semua pihak dengan patuh mentaatinya.

Demikian juga dengan ‘fill in’ lead guitar, bahkan saya menentukan running note yang harus dilakukan, dan punya hak untuk membatasi wilayah-wilayah yang tak boleh dilanggar. Semua itu berjalan dengan sebuah kesepakatan yang sudah disetujui bersama secara demokratis.

Bahkan saya juga bisa minta pendapat WS Rendra untuk merubah sebahagian kata-kata dalam tulisan sajaknya, agar lebih kompetibel masuk dalam ruang-ruang musik dan lagu.

Tapi proses itu bukan tanpa konsekwensi, karena memang akhirnya banyak pihak yang tidak merasa puas menyalurkan keinginannya. Jelas, karena memang dibatasi dengan aturan-aturan Music Arranger.

Salah satu yang merasa tak puas adalah mas Djody, dia merasa terkekang dengan notasi yang saya buat, “itu bukan saya yang sesungguhnya” (*katanya*), yah mungkin juga sih. Anda bisa mendengarkan rekaman-rekaman beliau setelah itu, nah itulah mungkin yang beliau maksudkan, tentang keinginan serta karakternya. Dan memang saya harus menghormati karakter tiap-tiap individu. Bukan masalah selera, suka atau tidak.

Lalu, disepakatilah untuk rekaman berikutnya tidak ada lagi arranger seperti saya dulu menanganinya. Semua boleh jadi arranger, supaya semua puas… dan juga atas nama demokrasi ‘baru’ yang coba untuk kita jalani.

01.07 | Posted in | Read More »